Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Februari 2010

Hukum Bersalaman Lelaki Perempuan


Syariat Islam melarang sama sekali untuk bersalaman antara lelaki dan perempuan yang tidak ada pertalian persaudaraan. Ringkasnya yang batal air sembahyang dan dibolehkan berkahmin, melainkan dengan berlapik. Apa yang dinyatakan di atas berdasarkan mazhab Syafie dan juga telah dinyatakan oleh Sheikh 'Athiah Saqar dari Majlis Fatwa Al Azhar dengan katanya berdasarkan kaedah mazhab Syafie:

    ‘Tidak halal bersalarnan antara lelaki dan perempuan melainkan dengan berlapik.’

    Ini berdasarkan ayat al Quran yang berbunyi:

    “Ataupun kamu sentuh wanita maka tiada kernudahan air untuk kamu berwuduk maka hendaklah karnu tayammum dengan tanah yang suci.” (Surah Al-Nisa': 43)

    Berdasarkan ayat ini mengilcut mazhab Imam Syafie adalah batal wuduk sekiranya bersentuh lelaki dengan perempuan, maka dengan demikian adalah haram bersentuhan dengan sengaja sama ada secara bersalaman atau lainnya. Sama ada dengan rasa keinginan atau tidak, bersalaman tidak boleh kecuali dengan berlapik atau beralas.

    Manakala jumhur, iaitu (Hanafi, Maliki dan Hambali) berpendapat tidak mengapa sekadar bersalarnan antara lelaki dan perempuan sekiranya tidak ada keinginan nafsu antara mereka.

    Walau bagaimanapun menurut fatwa Sheikh Mohd Mutwalli al-Sha'rawi menyatakan bahawa tidak digalakkan bersalaman antara lelaki dengan perempuan sekalipun disertakan dengan niat sekadar bersalaman sahaja. Kerana ini adalah peraturan dari hukum syarak ditakuti akan wujud bibit-bibit keinginan nafsu syahwat melalui antara dua tangan yang bersalaman tadi. (Rujuk Muhd. Mutwali Al-Sya'rawi. T.T. 157).

    Menurut mazhab Syafie seandainya bersalaman tanpa lapik adalah berdosa kerana sentuhan di antara dua tangan yang bukan mahramnya (bukan ibu bapa atau saudaranya) wajiblah beristighfar dan bertaubat memohon keampunan dari Allah. (Rujuk Al-Imam Abi Zakaria Yahya bin Syarafi Al-Nawawi Al-Demsyacli. 1992. hlm. 185-186).

    Masalah ini jika hendak diperkatakan dianggap sesuatu yang ringan dan remeh di kalangan orang Islam. Sebenamya ia adalah besar dan berat di sisi Allah dan di sudut akhlak orang Islam, lebih-lebih lagi di kalangan anak-anak muda dan remaja kerana ini membawa saharn kepada gejala gejala yang lebih besar. Sebab itulah dari menularnya permasalahan yang lebih besar maka jalanjalan yang mendorong ke arahnya mesti dihalang terlebih dahulu. Soal ini ditegaskan berdasarkan hadis Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh Ma'qal bin Yasar telah menceritakan bahawa Rasulullah pernah bersabda dengan katanya:

    ‘Sekiranya ditikam di kepala seseorang kamu dengan sebatang besi adalah lehih haik baginya dari menyentub kulit wanita yang tidak halal untuk disentuh.’ (Riwayat Baihaki)

    Hadis ini menunjukkan bahawa syariat Islam menegah sama sekali menyentuh jasad wanita yang sihat dan sempurna serta normal, kecuali apabila wanita itu didapati sakit atau memberi pertolongan cemas ataupun dengan maksud mengubat, maka ini dibolehkan di sisi syariat sekadar yang sepatutnya dengan ertikata memberi pertolongan serta disaksi olch orang lain iaitu bukan herdua duaan dan tidak sekali kali melampaui batasan. (Rujuk Muhd. 'Abdul Raof Al-Manawi. 1972. hlrn. 258)


(e-Book Adab Pergaulan Menurut Al-Quran dan As-Sunnah)

Kamis, 21 Januari 2010

Ucapan amin, aamin, amiin, dan aamiin


Lafaz aamiin diucapkan didalam dan diluar salat, diluar salat amin diucapkan oleh orang yang mendengar doa orang lain. Aamiin termasuk isi fiil Amr, yaitu isim yang mengandung pekerjaan. Maka para ulama jumhur mengartikannya dengan Allahummas istajib (ya Allah ijabahlah). Makna inilah yang paling kuat dibanding makna-makna lainnya seperti bahwa aamiin adalah salah satu nama dari asma Allah swt.

Membaca aamiin adalah dengan memanjangkan a (alif) dan memanjangkan min, apabila tidak demikian akan menimbulkan arti lain.
Dalam Bahasa Arab, ada empat perbedaan kata “AMIN” yaitu :

1. ”AMIN” (alif dan mim sama-sama pendek), artinya AMAN, TENTRAM
2. "AAMIN” (alif panjang & mim pendek), artinya MEMINTA PERLINDUNGAN KEAMANAN
3. ”AMIIN” (alif pendek & mim panjang), artinya JUJUR TERPERCAYA
4. “AAMIIN” (alif & mim sama-sama panjang), artinya YA TUHAN, KABULKANLAH DOA KAMI


Arti kesemuanya bermakna baik, tapi benar atau belum pemakaian kata² tersebut?
Supaya apa yang kita lafalkan benar dan sesuai dengan arti yang kita inginkan.
Semoga bermanfaat...


Wallahu a'lam bish showab

Selasa, 19 Januari 2010

Ikhtiar Mengenal ALLAH

Tidak ada keraguan bahwa setiap perbuatan ALLAH azza wa jalla pasti sudah melewati perhitungan yang sangat cermat dan maha sempurna.Barangsiapa yang mengenal ALLAH, tidak mungkin kecewa oleh apapun perbuatan ALLAH, kalaupun kecewa, maka kecewa terhadap diri sendiri yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan keinginan-Nya.Kalau kita sudah memasuki derajat ihsan/muhsinin, orang yang biasa bertatapan dengan ALLAH, maka takluklah dunia ini kepadanya dan ia akan merasakan suatu kelezatan yang luar biasa. 
Bagaimana caranya ? Secara mendasar dapat ditegaskan bahwa kemampuan ma’rifat adalah hak ALLAH, ada dua jalan agar orang bisa ma’rifat , yaitu :


1.  Tanazul
Merupakan jalan ma’rifat yang dikaruniakan ALLAH kepada seseorang, sehingga ia dapat mengenal dan akrab dengan-Nya tanpa sebab, jadi ALLAH-lah yang membuat sebab. Diatur saja oleh-Nya sehingga orang ini jadi mengenali-Nya.
Biasanya ALLAH berbuat seperti ini karena memang sudah ada dalam rencananya yang tercatat di Lauhul Mahfuzh atau bisa jadi karena orang tersebut dari keturunan orang soleh.
Dalam Al-quran disebutkan, misalnya : Ashabul kahfi yang mendapat karunia ma’rifat dalam waktu singkat. Selain itu para tukang sihir di zaman Nabi Musa AS. Ketika mereka mengadakan adu tanding dengan musa dihadapan fir’aun, yang kemudian para tukang sihir ini dikalahkan oleh ALLAH. Akibatnya secara spontan mereka yakin akan kebesaran ALLAH “ Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa”.
2.   Tariqi
Proses mencari karunia ma’rifat melalui jalan yang mendaki          “ mulai dari sedikit ilmu, lalu terus menerus diamalkan dalam waktu yang mungkin sangat lama dan melelahkan “. Akan tetapi, tidak semua yang menempuh tariqi berhasil memasuki derajat arifin, yakni orang yang ma’rifat, yang kenal dengan ALLAH, dengan dirinya dengan dunia dan tentu saja dengan akhirat.
Syarat menempuh tariqi :
a. Iman
b. Ilmu
Kita tidak bisa akrab dengan ALLAH sebelum mengetahui ilmunya, karena itu kita wajib mengkaji ilmu tauhid karena hukumnya fardu ‘ain. Mengkaji fiqih wajib dengan tujuan agar benar syariat.
c. Amal
Barangsiapa yang bertambah ilmu, tetapi tidak bertambah amalnya, maka dia akan semakin jauh dari ALLAH.
d. Muqarrabah
Seseorang yang muraqabah seluruh aktivitas hidupnya, mulai dari mata terbuka sampai terpejam, tidak ada yang dituju dari geraknya selain ALLAH. Dia mau bergerak, kalau jelas ada perintah ALLAH, gerakannya disesuaikan dengan keinginan dari aturan ALLAH, serta tujuan gerakannya pun semata-mata hanya karena ALLAH.

Minggu, 10 Januari 2010

Kelompok Hati?





Menurut ilmu tasawuf, hati terbagi atas 3 kelompok :
1. Hati yang bersih dan sehat 
Hati yang setiap saat mengingat Allah, ketika mendengar ayat-ayatnya bergetar hati dan 
bertambah imannya. Kecintaan dan kebenciannya kepada sesuatu hanya didasarkan kepada
Allah semata.
Ia rindukan segenap perintah-Nya dan benci terhadap segala larangan-Nya. Ia akan merasa
sangat sedih dan bersalah jika suatu saat dirinya lalai tidak memanfaatkan waktu semaksimal
mungkin. Setiap detik yang dilaluinya adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan
dihadapan Allah.
Ikhlas dan bersungguh-sungguh dalam setiap gerakan adalah ciri hati yang sehat.Tanda-tanda
ikhlas adalah ada dan tidak ada orang kita tetap melakukan amalan soleh yang ingin kita
kerjakan.
Hati yang sehat tidak menyekutukan ALLAH dengan apapun dalam bentuk apapun. Ia
mengikhlaskan amal untuk  ALLAH, bila mencintai, mencintai karena ALLAH, bila membenci,
membenci karena ALLAH ,dan bila  memberi hanya karena ALLAH.

2. Hati yang sakit 
Hati yang senantiasa merasa gundah dan ragu meskipun dibacakan ayat suci al-Quran.
Nikmatnya iman dan Islam tak pernah dirasakan. Hati yang mempunyai kehidupan, tetapi
berpenyakit. Kadang-kadang kehidupan tampak padanya, tetapi kadang-kadang yang tampak
penyakitnya, tergantung yang mana diantara keduanya yang sedang dominan.
Dalam hati ini terdapat kecintaan, keimanan, ketakutan dan tawaqal kepada ALLAH, yang
semua ini merupakan bahan baku kehidupannya. Tetapi didalamnya juga terdapat kecintaan
terhadap hawa nafsu, pengutamaan terhadapnya dan ambisi untuk memperolehnya.
Kedengkian, kesombongan dan kebanggaan terhadap diri sendiri. Ia dipengaruhi oleh 2
penyeru, yang satu mengajaknya kepada ALLAH, rasulnya dan negri akherat sedangkan yang
lain mengajaknya kepada dunia.

3. Hati  yang mati 
Hati yang jauh dari hidayah dan sulit menerima kebenaran. Hati yang tidak mengenal Tuhan,
serta tidak beribadah kepada-Nya. Ia senantiasa memperturutkan hawa nafsu, sekalipun
dimurkai dan dibenci ALLAH.
Hawa nafsu adalah imamnya, syahwat adalah komandannya, kebodohan adalah
pengendalinya dan kelalaian adalah kendaraannya.
Di hatinya terdapat penyakit ujub, riya dan takabur. Sehingga ia tidak merasakan kehadiran
Allah dalam setiap jengkal hidupnya.
Ia senantiasa sibuk berpikir untuk memperoleh ambisi-ambisi duniawi serta dimabukkan oleh
hawa nafsu dan cinta duniawi.
Allah SWT berfirman :
a. Mereka tuli, bisu, buta. Maka tidaklah mereka kembali ke jalan yang benar.” (Al-baqarah ayat 18).
b. Sesungguhnya orang-orang yang kafir sama saja bagi mereka apakah kamu beri peringatan atau tidak, mereka tetap tidak akan beriman. Allah telah mematikan hati mereka, pendengaran mereka dan penglihatan mereka bahkan semuanya benar-benar tertutup.”(Al-Baqarah:6-7).
Manusia yang hatinya mati, hidupnya tak jauh beda dengan binatang. Baginya tak ada
hukum halal dan haram. Tidak ada batas antara yang haq dan yang batil. Yang ada
hanyalah kepuasan nafsu yang tak pernah berujung.  Karena itulah terapi yang paling
ampuh pengobat syifa (obat penawar) penyakit hati manusia adalah Al-quran:
 “ Wahai manusia, telah datang kepada kalian pelajaran dari tuhan kalian, obat     
penawar bagi penyakit yang ada dalam dada, petunjuk serta rahmat bagi 
orang-orang yang beriman”.
Bergaul dengan orang yang hatinya mati seperti ini adalah penyakit dan racun, 
bersahabat dengannya adalah kebinasaan. Dengki akan merugikan diri sendiri dan 
orang lain, yang akan termanifestasi pada wajah dan sikap. Ciri-cirinya :
-  Senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang
        - Tidak mengakui prestasi orang lain.

:: Oleh : Ibnul Qayyim Al-Jauziyah

Selasa, 05 Januari 2010

Naluri, Kecerdasan, dan Ketidak Adilan


Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung dgn seseorang yg didakwa kasus pembunuhan berencana. Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yg akan saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yg sering saya temui di cerita TV.

Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah satu sipir membawa seorang anak kehadapan saya. Yup, benar seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dgn wajah yg diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dgn gerak-gerik yg sopan.

Saya pun membaca berkas kasusnya yg diserahkan oleh sipir itu. Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik sekolah di dlm penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?

Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yg berdagang di sebuah pasar di daerah bekasi, dihabisi kepala preman yg menguasai daerah itu. Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang "keamanan" yg begitu tinggi. Berita ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman tsb.

Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yg membunuh ayahnya.

"Siapa yg bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang yg ada di tempat itu.
"Gue terus kenapa?" ujar kepala preman yg membunuh ayahnya sambil disambut gelak tawa di belakangnya.

Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke kantor polisi.

"Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar kepala lapas yg ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak di penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib. Pelarian pertama dilakukannya dgn cara yg tak terpikirkan siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dlm salah satu kantung sampah.

Hasilnya 1-0 utk Arif. Ia berhasil keluar dari penjara. Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yg doyan baca ini pernah membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung hawa panas yg bersifat destruktif terhadap benda keras. Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali dlm seminggu. Setiap disediakan tape, arif selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat
bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 utk arif. Ia keluar penjara kedua kalinya. Pelarian ketiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yg ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi.

Besi yg berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dlm kamarnya. Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan utk kabur. Ruang kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dgn menggunakan besi pegangan ember utk membuka pintu dan gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah diluar. 3-0 utk Arif. Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi?

Rupanya kepintaran itu masih berada di sebuah kepala bocah.
Pelarian-pelarianny a didorong dari rasa kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya utk ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian kilometer dgn satu tujuan, pulang! Karena itu pula pada pelarian Arif yg ketiga, kepala Lapas yg juga seorang ibu ini meminta anak buahnya utk tidak segera menjemput Arif. Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas sambil membawa surat utk kepala Lapas yg ditulisnya sendiri.

Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif. Tulisnya singkat.

Seorang anak cerdas yg harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang.

Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Arif) pastinya saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti ini. Dan kreativitasnya yg tinggi itu bisa berguna utk hal yg lain.
Sayangnya si Arif itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara si preman yg dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib setempat. Itulah yg namanya keadilan!

Minggu, 03 Januari 2010

TAMARRUD


Sifat ini hampir sama dengan iand. Hanya saja, sifat tamarrud berada dalam tensi yang agak rendah. Tamarrud adalah kebiasaan seseorang melanggar aturan yang telah ditetapkan, terutama undang-undang Allah. Selain itu, pemilik sifat ini pun tidak pernah mau menerima nasihat dari siapa pun, termasuk orang yang dituakannya.


Sikap ini biasanya dilakukan oleh orang-orang fasiq, munafik, dan musyrik. Mereka memang menuhankan Allah, berpedoman kepada Al-Quran dan sunah Rasulullah. Namun, hati mereka dipenuhi seribu keraguan tentang jaminan yang dijanjikan Allah melalui agama yang hak ini. Lebih jelasnya, selain Allah, ada kekuatan lain yang menguasai mereka. Di samping undang-undang Allah, ada petunjuk lain yang mereka anggap lebih bermanfaat dan lebih dominan. Itu semua karena keyakinan mereka yang sangat lemah tentang kehidupan akhirat. Mereka lebih mempercayai apa yang dapat dilihat dengan mata dan dirasakan secara langsung di dunia ini. Keyakinan kotor
ini merupakan bagian dari misi Yahudi yang menggelar paham materialisnya. Allah SWT mengisyaratkan keburukan kaum Yahudi ini dalam Surat Al-Baqarah; yakni ketika mereka menolak dakwah Nabi Musa a.s.:


Dan ingatlah ketika kamu berkata, "Hai Musa, kami tidak akan iman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang." Karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikan- nya." (Q.S. Al-Baqarah, 55).


Adapun penyebab sifat ini sama dengan sifat inad yaitu takabur, riya', hiqdu, hasud, tamak, dan mengikuti hawa nafsu.


Sedangkan kekuatan yang dapat menyembuhkan penyakit ini antara lain sebagai berikut:
1. Sering bersahabat dengan kaum ulama dan pendakwah.
2. Berkawan hanya dengan orang-oran gsaleh.
3. Berusaha mendapatkan hidayah, seperti mengikuti berbagai kegiatan pengajaran agama.
4. Berdoa dengan sepenuh hati untuk mendapatkan taufik-Nya.

KETIDAKSTABILAN MENTAL (ATH-THAISY)



Penyakit ath-thaisy adalah penyakit hati yang timbul akibat lemahnya akal (hati) seseorang dalam memelihara pendayagunaan seluruh anggota badannya dari hal-hal yang tidak perlu sehingga ia mudah sekali terpengaruh oleh apa-apa yang terjadi di dekatnya. Contohnya adalah sebagai berikut:
1. Selalu ingin memperhatikan siapa saja yang lewat di dekat nya, atau siapa saja yang dia lihat.
2. Selalu ingin mendengarkan apa saja yang dikatakan orang lain, padahal sama sekali tidak ada kaitannya dengan kepentingannya.
3. Mudah sekali memberikan komentar atau terpancing perkataan-perkataan orang lain.
4. Mudah sekali memberikan jawaban atas setiap pertanyaan, tanpa berpikir panjang.
5. Menggerakkan tangan atau kaki di luar kebiasaan umum, seperti orang yang terganggu syarafnya.
6. Salah tingkah jika menemukan sesuatu di luar kebiasaan.

Kebalikan dari sikap ath-thaisy dalam al-waqar, yaitu sikap seseorang yang senantiasa tenang dalam berbagai penampilannya, dan akalnya selalu dapat membimbingnya ke arah yang sesuai dengan etika yang benar, dan sesuai pula dengan keperluannya. Dengan sikap al-waqar-nya, seseorang dapat memelihara matanya dari penglihatan yang tidak berguna
--apalagi yang haram-- telinganya selalu dapat memilih antara yang perlu didengar dan yang tidak perlu, sehingga dia tidak pernah salah memberikan tugas kepada lisannya untuk berkomentar, dan kepada tangan dan kakinya untuk bertindak. Beberapa tanda orang yang memiliki sifat ini disebutkan dalam Al-Qur'an:

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang adalah orang-orang itu berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang jahil menyapanya, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. (Q.S. Al-Furqan, 63).

Penyakit ath-thaisy dapat mengakibatkan gangguan kejiwaan yang berakibat sangat buruk terhadap perkembangan fisik dan mental seseorang. Fisik dan mentalnya akan lemah.


Selasa, 22 Desember 2009

Jauhi Tiga Perkara!

Manusia diciptakan kemuka bumi ini untuk mengelola sesuatu yang ada didalamnya dengan sebenar-benarnya, dan juga untuk menghamba kepada Sang Khalik Allah Swt.dengan mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Setiap perbuatan manusia akan dimintai pertanggung jawabannya di akherat kelak, maka jalan apa yang akan ditempuh itulah pilihan setiap individu, yang pada akhirnya manusia akan merasakan bahagia atau sengsara.
Rasulullah saw memberikan jaminan kepada kaum muslimin selama mereka terbebas dari tiga perkara sebelum kematian terjadi pada dirinya, beliau bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ بَرِيْءٌ مِنْ ثَلاَثٍ : أَلْكِبْرُ وَالْغُلُوْلُ وَالدَّيْنُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang mati dan ia terbebas dari tiga hal, yakni sombong, fanatisme dan utang maka ia akan masuk surga (HR. Tirmidzi(.

Hadis diatas menunjukkan kepada kita semua sebagai ummat Nabi Muhammad untuk hindari tiga perkara tersebut yaitu : memiliki sifat sombong, fanatisme kepada golongan dan juga memiliki hutang yang belum dibayar. Kesemuanya parkara tersebut berdampak negatif bagi setiap jiwa muslim.

1. Sombong.

Sombong adalah sifat yang dimiliki manusia dengan menganggap dirinya lebih dengan meremehkan orang lain, karenanya orang yang takabbur itu seringkali menolak kebenaran, apalagi bila kebenaran itu datang dari orang yang kedudukannya lebih rendah dari dirinya, Rasulullah Saw bersabda:
اَلْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Takabbur itu adalah menolak kebenaran dan dan menghina orang lain (HR. Muslim).

Sombong merupakan sifat iblis laknatullah, dengan sebab itulah ia divonis ingkar/kafir kepada Allah Swt, sebagaimana firman Allah Swt :
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang sujud. Allah berfirman: Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) diwaktu Aku menyuruhmu?. Iblis menjawab: aku lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah. Allah berfirman: turunlah kamu dari syurga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina (QS 7:11-13, lihat pula QS 40:60).

Ada banyak dampak negatif atau bahaya dari sifat sombong ini, diantara adalah: Pertama, Tidak senang pada saran apalagi kritik, hal ini karena ia sudah merasa sempurna, tidak punya kekurangan, apalagi bila kesombongan itu tumbuh karena usianya yang sudah tua dengan segudang pengalaman, ia akan menyombongkan diri kepada orang yang muda, atau sombong karena ilmunya banyak dengan gelar kesarjanaan.

Kedua, Tidak senang terhadap kemajuan yang dicapai orang lain, hal ini karena apa yang menjadi sebab kesombongannya akan tersaingi oleh orang itu yang menyebabkan dia tidak pantas lagi berlaku sombong, karenanya orang seperti ini biasanya menjadi iri hati (hasad) terhadap keberhasilan, kemajuan dan kesenangan yang dicapai orang lain, bahkan kalau perlu menghambat dan menghentikan kemajuan itu dengan cara-cara yang membahayakan seperti memfitnah, permusuhan hingga pembunuhan.

Ketiga, Menolak kebenaran meskipun ia meyakininya sebagai sesuatu yang benar, hal ini difirmankan Allah Swt di dalam Al-Qur’an: Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan (QS 27:14).

Keempat, Dibenci Allah Swt yang menyebabkannya tidak akan masuk syurga. Allah Swt berfirman: Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong (QS 16:23).

Di dalam hadits, Rasulullah Saw bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبرٍْ

Tidak masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari sifat kesombongan (HR. Muslim).

2. Ta'asshub atau Fanatisme.

Ta'asshub atau yang dikenal fanatic kepada perorangan atau kelompok tertentu, hal tersebut terjadi ditengah-tengah masyarakat dan tidak bisa dipungkiri bahwa manusia termasuk kaum muslimin hidup dengan latar belakang yang berbeda-beda, termasuk latar belakang kelompok, baik karena kesukuan, kebangsaan maupun golongan-golongan berdasarkan organisasi maupun paham keagamaan dan partai politik, hal ini disebut dengan ashabiyah. Para sahabat seringkali dikelompokkan menjadi dua golongan, yakni Muhajirin (orang yang berhijrah dari Makkah ke Madinah) dan Anshar (orang Madinah yang memberi pertolongan kepada orang Makkah yang berhijrah). Pada dasarnya golongan-golongan itu tidak masalah selama tidak sampai pada fanatisme yang berlebihan sehingga tidak mengukur kemuliaan seseorang berdasarkan golongan, hal ini karena memang Allah Swt mengakuinya, hal ini terdapat dalam firman Allah yang artinya:
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS 49:13).

Manakala seseorang memiliki fanatisme yang berlebihan terhadap golongan sehingga segala pertimbangan dan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan golongannya, bukan berdasarkan nilai-nilai kebenaran, maka hal ini sudah tidak bisa dibenarkan, inilah yang disebut dengan ashabiyah yang sangat dilarang di dalam Islam, apalagi bila seseorang sampai mengajak orang lain untuk bersikap demikian, lebih-lebih bila seseorang siap mati untuk semua itu, maka Rasulullah Saw tidak mau mengakui orang yang demikian itu sebagai umatnya, hal ini terdapat dalam hadits Nabi Saw:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا اِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

Bukan golongan kami orang yang menyeru kepada ashabiyah, bukan golongan kami orang yang berperang atas ashabiyah dan bukan golongan kami orang yang mati atas ashabiyah (HR. Abu Daud)


3. Utang.

Dalam hidup ini, manusia seringkali melakukan hubungan muamalah dengan sesamanya, salah satunya adalah transaksi jual beli. Namun dalam proses jual beli tidak selalu hal itu dilakukan secara tunai atau seseorang tidak punya uang padahal ia sangat membutuhkannya, maka iapun meminjam uang untuk bisa memenuhi kebutuhannya, inilah yang kemudian disebut dengan utang. Sebagai manusia, apalagi sebagai muslim yang memiliki harga diri, sedapat mungkin utang itu tidak dilakukan, apalagi kalau tidak mampu membayarnya, kecuali memang sangat darurat, karena itu seorang muslim harus hati-hati dalam masalah utang, Rasulullah Saw bersabda:
ِايَّاكُمْ وَالدَّيْنِ فَاِنَّهُ هَمٌّ بِاللَّيْلِ وَمَذَلَّةٌ بِالنَّهَاِر

Berhati-hatilah dalam berutang, sesungguhnya berutang itu suatu kesedihan pada malam hari dan kerendahan diri (kehinaan) pada siang hari (HR. Baihaki)

Bagi seorang muslim, utang merupakan sesuatu yang harus segera dibayar, ia tidak boleh menyepelekannya meskipun nilainya kecil. Bila seorang muslim memiliki perhatian yang besar dalam urusan membayar utang, maka ia bisa menjadi manusia yang terbaik. Rasulullah Saw bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ خَيْرُهُمْ قَضَاءً
Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar utang (HR. Ibnu Majah).

Namun apabila manusia yang berutang tidak mau memperhatikan atau tidak mau membayarnya, maka hal itu akan membawa keburukan bagi dirinya, apalagi dalam kehidupan di akhirat nanti, hal ini karena utang yang tidak dibayar akan menggerogoti nilai kebaikan seseorang yang dikakukannya di dunia, kecuali bila ia memang tidak mempunyai kemampuan untuk membayarnya, Rasulullah Saw bersabda:

اَلدَّيْنُ دَيْنَانِ فَمَنْ مَاتَ وَهُوَيَنْوِىْ قَضَاءَهُ فَأَنَا وَلِيُّهُ وَمَنْ مَاتَ وَلاَيَنْوِىْ قَضَاءَهُ فَذَالِكَ الَّذِىْ يُؤْخَذُمِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ يَوْمَئِذٍ دِيْنَارٌ وَلاَدِرْهَمٌ.

Utang itu ada dua macam, barangsiapa yang mati meninggalkan utang, sedangkan ia berniat akan membayarnya, maka saya yang akan mengurusnya, dan barangsiapa yang mati, sedangkan ia tidak berniat akan membayarnya, maka pembayarannya akan diambil dari kebaikannya, karena di waktu itu tidak ada emas dan perak (HR. Thabrani).

Ketiga perkara tersebut jangan sampai terjadi pada diri kita sebagai ummat Islam. Sehebat apapun orang/golongan/partai yang kita ikuti, namun ketika berbuat salah maka seyogyanya bagi kita untuk mengislahnya jangan taklid buta. Hindari sifat yang selalu mendewakan diri sendiri, mengenggap lebih dari orang lain. Milikilah sifat yang selalu menerima pemberian dari Allah Swt (Qona'ah), jangan sampai kita memiliki hutang karena selalu tidak puas terhadap rizki yang kita dapatkan.
Wallahu A'lam Bisshawab.

Jauhi Tiga Perkara!
Sumber: www.pesantrenvirtual.com

Senin, 21 Desember 2009

Amanah


Di  Damaskus,  ada sebuah mesjid besar, namanya mesjid Jami' At-Taubah. Masjid itu adalah  sebuah masjid yang penuh keberkahan. Di dalamnya ada ketenangan dan keindahan.  Sejak  tujuh  puluh  tahun,  di  masjid  itu ada seorang syaikh pendidik  yang  alim  dan  mengamalkan  ilmunya.  Dia sangat fakir sehingga menjadi  contoh  dalam kefakirannya, dalam menahan diri dari meminta, dalam kemuliaan jiwanya dan dalam berkhidmat untuk kepentingan orang lain. Saat  itu ada pemuda yang bertempat di sebuah kamar dalam masjid. Sudah dua hari  berlalu  tanpa ada makanan yang dapat dimakannya. Dia tidak mempunyai makanan  ataupun  uang  untuk membeli makanan. Saat datang hari ketiga dia merasa  bahwa  dia  akan  mati,  lalu  dia  berfikir  tentang apa yang akan dilakukan. Menurutnya, saat ini dia telah sampai pada kondisi terpaksa yang membolehkannya  memakan  bangkai atau mencuri sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya. Itulah pendapatnya pada kondisi semacam ini.

Masjid  tempat  dia  tinggal  itu,  atapnya bersambung dengan atap beberapa rumah  yang  ada  di sampingnya.  Hal  ini memungkinkan sesorang pindah dari rumah  pertama  sampai  terakhir  dengan  berjalan  diatas atap rumah-rumah tersebut.  Maka,  dia pun naik ke atas atap masjid dan dari situ dia pindah kerumah   sebelah.  Di  situ  dia  melihat  orang-orang  wanita,  maka  dia memalingkan  pandangannya  dan menjauh dari rumah itu. Lalu dia lihat rumah yang  di  sebelahnya  lagi.  Keadaannya sedang sepi dan dia mencium ada bau masakan  berasal  dari  rumah  itu.  Rasa laparnya bangkit, seolah-olah bau masakan tersebut magnet yang menariknya. Rumah-rumah  dimasa  itu  banyak  dibangun  dengan  satu  lantai,  maka dia melompat  dari  atap  ke  dalam  serambi. Dalam sekejap dia sudah berada di dalam rumah dan dengan cepat dia masuk ke dapur lalu mengangkat tutup panci yang ada disitu. Dilihatnya sebuah terong besar dan sudah dimasak. Lalu dia ambil  satu,  karena  rasa  laparnya  dia  tidak  lagi  merasakan panasnya,digigitlah  terong  yang  ada  ditangannya  dan  saat itu dia mengunyah dan hendak  menelannya,  dia  ingat  dan  timbul  lagi  kesadaran  beragamanya.Langsung  dia berkata, 'A'udzu billah! Aku adalah penuntut ilmu dan tinggal di  mesjid  , pantaskah aku masuk kerumah orang dan mencuri barang yang ada di dalamnya?' Dia merasa bahwa ini adalah kesalahn besar, lalu dia menyesal dan  beristigfar  kepada Allah, kemudian mengembalikan lagi terong yang ada ditangannya.  Akhirnya  dia  pulang  kembali ketempat semula. Lalu ia masuk ke dalam  masjid  dan  mendengarkan  syaikh  yang  saat itu sedang mengajar. Karena terlalu lapar dia tidak dapat memahami apa yang dia dengar.

Ketika  majlis  itu selesai dan orang-orang sudah pulang, datanglah seorang  perempuan  yang  menutup  tubuhnya  dengan hijab -saat itu memang tidak ada perempuan  kecuali  dia  memakai  hijab-,  kemudian perempuan itu berbicara dengan   syaikh.   Sang   pemuda  tidak  bisa  mendengar  apa  yang  sedang dibicarakannya.  Akan  tetapi,  secara  tiba-tiba  syaikh  itu  melihat  ke sekelilingnya.  Tak  tampak  olehnya kecuali pemuda itu, dipanggilah ia dan syaikh  itu  bertanya,  'Apakah  kamu  sudah  menikah?', dijawab, 'Belum,'. Syaikh  itu  bertanya  lagi,  'Apakah kau ingin menikah?'. Pemuda itu diam. Syaikh  mengulangi  lagi  pertanyaannya. Akhirnya pemuda itu angkat bicara, 'Ya  Syaikh, demi Allah! Aku tidak punya uang untuk membeli roti, bagaimana aku akan menikah?'. Syaikh itu menjawab, 'Wanita ini datang membawa khabar, bahwa  suaminya  telah meninggal dan dia adalah orang asing di kota ini. Di sini  bahkan  di  dunia ini dia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang paman  yang  sudah tua dan miskin', kata syaikh itu sambil menunjuk seorang laki-laki yang duduk  di  pojokkan. Syaikh itu melanjutkan pembicaraannya, 'Dan wanita ini telah mewarisi rumah suaminya dan hasil penghidupannya. Sekarang, dia ingin seorang  laki-laki  yang  mau  menikahinya,  agar  dia  tidak sendirian dan mungkin  diganggu  orang. Maukah kau menikah dengannya? Pemuda itu menjawab 'Ya'.  Kemudian  Syaikh  bertanya  kepada  wanita  itu,  'Apakah engkau mau menerimanya   sebagai   suamimu?',   ia  menjawab  'Ya'.  Maka  Syaikh  itu mendatangkan pamannya dan dua orang saksi kemudian melangsungkan akad nikah dan  membayarkan  mahar  untuk  muridnya  itu. Kemudian syaikh itu berkata, 'peganglah  tangan  isterimu!' Dipeganglah tangan isterinya dan sang isteri membawanya  kerumahnya.  Setelah  keduanya masuk kedalam rumah, sang isteri membuka  kain  yang menutupi wajahnya. Tampaklah oleh pemuda itu, bahwa dia adalah  seorang wanita yang masih muda dan cantik. Rupanya pemuda itu sadar bahwa rumah itu adalah rumah yang tadi telah ia masuki.


Sang  isteri  bertanya,  'Kau ingin makan?' 'Ya' jawabnya. Lalu dia membuka tutup  panci  didapurnya.  Saat melihat buah terong didalamnya dia berkata: 'heran  siapa  yang  masuk kerumah dan menggigit terong ini?!'. Maka pemuda itu  menangis dan menceritakan kisahnya. Isterinya berkomentar, 'Ini adalah buah  dari  sifat  amanah,  kau jaga kehormatanmu dan kau tinggalkan terong yang  haram  itu,  lalu Allah berikan rumah ini semuanya berikut pemiliknya dalam  keadaan  halal. Barang siapa yang meninggalkan sesuatu ikhlas karena Allah, maka akan Allah ganti dengan yang lebih baik dari itu.

Diceritakan oleh : Syaikh Ali Ath-Thanthawi
Oleh : Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia


Rabu, 16 Desember 2009

Penulisan Lafazh Salam Dan Kekeliruannya


Pembaca kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, ucapan salam adalah sunah yang diajarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi sebagian kaum muslimin salah dalam mengucapkannya, sebagian salah dalam menuliskan atau melafazhkan, sebagiannya lagi salah dalam mengucapkan salam dengan meringkasnya menjadi kata yang tidak lagi menjadi salam.
Dalam bahasa arab, tulisan salam secara lengkap adalah seperti ini,
Pembacaannya adalah “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh”, kalau mau terperinci panjang pendeknya di tulis “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh”, perhatikan panjang dan pendeknya…

Makna kalimat salam tersebut di antaranya adalah, “Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkah-Nya tercurah kepadamu.”

Ucapan salam di atas adalah bentuk salam yang paling sempurna, adapun bentuk pengucapan lain bisa dengan mengucapkan,
“Assalamu ‘alaikum warahmatullah”
Atau,
“Assalamu ‘alaikum”
Dasarnya adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ ثُمَّ جَلَسَ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- : عَشْرٌ . ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ : عِشْرُونَ . ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ : ثَلاَثُونَ
Dari Imran Ibn Hushain radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengucapkan “Assalamu ‘alaikum”. Nabi menjawab salam itu, lalu orang itu duduk. Nabi berkata, “sepuluh (kebaikan)”. Kemudian datang orang lain dan mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah”. Nabi menjawabnya, lalu orang itu duduk dan Nabi berkata, “Dua puluh (kebaikan)”. Kemudian datang orang lain lagi dan mengucapkan “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh”. Nabi membalas salamnya lalu dia duduk dan Nabi berkata, “Tiga puluh (kebaikan).” (HR. Abu Daud)
Membalas Salam
Adapun bentuk membalas salam adalah berdasarkan firman Allah ta’ala dalam surat an-Nisa,
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An Nisa’: 86)
Dalam ayat ini Allah ta’ala memerintahkan kita untuk membalas salam dengan yang lebih baik, sehingga kalau yang memberi salam mengucapkan,
“Assalamu ‘alaikum”
Maka minimal kita jawab dengan mengucapkan,
“Wa ‘alaikumus salam”
Kalau kita ingin membalas dengan yang lebih lengkap dengan mengucapkan,
“Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah”
Atau,
“Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullahi wabarakatuh”
Maka ini lebih baik.
Jadi apabila yang memberi salam mengucapkan lafazh yang lengkap, maka sepantasnya kita untuk membalas dengan ucapan salam yang lengkap juga.
Perhatian!!
Kesalahan yang sering ditemui dalam pengucapan salam adalah penyingkatan salam dengan tulisan “ass”, “ass.wr.wb”, “asw” atau yang lainnya, maka ucapan seperti ini bukanlah salam, hendaknya ketika menulis komentar, sms atau media lainnya kita tidak menuliskan seperti itu. Tulislah dengan lafazh yang benar seperti “assalamu ‘alaikum”, atau kalau memang tergesa-gesa tidak di tulis juga tidak apa-apa.
Semoga bermanfaat…

:: http://badar.muslim.or.id/

Minggu, 29 November 2009

Mengalahkan Atau Dikalahkan

Mengatasi rasa jenuh mungkin adalah suatu hal yang tidak mudah bagi sebagian orang. Penyebabnya bisa bermacam-macam, salah satunya adalah rutinitas atau pekerjaan yang dirasakan monoton sebab selalu harus dikerjakan setiap hari dalam bentuk yang sama. Bagi sebagian orang, mungkin hal itu tidak menantang, dan kurang membangkitkan gairah kala mengerjakannya. Sehingga mereka memilih untuk mengerjakan sesuatu hal yang lain, yang dirasakan lebih menarik dan lebih menuntut kreatifitas.
Padahal, mengalahkan rasa bosan atau jenuh adalah sebuah kreativitas tersendiri. Setidaknya, setiap orang yang berhasil menaklukkannya telah berhasil mengubah paradigma yang tertanam dalam pikirannya bahwa pekerjaan tersebut membosankan, berganti menjadi sebuah produktifitas baru dengan semangat yang baru pula. Tidak mudah? Tentu saja. Bahkan perlu keterampilan tersendiri, kesabaran, dan yang paling penting adalah: kemauan. Bila kemauan tidak dihadirkan, maka perubahan itu tak kan terjadi.


Mengalahkan rasa bosan mungkin seumpama memukul-ratakan sebuah bongkahan batu yang akan menghabiskan energi. Ia menjadi sebuah momok tersendiri bagi tiap diri. Bisa dihitung berapa orang yang sukses menghancurkan 'batu kebosanan' itu. Sebagian besar hanya akan menunggu sampai batu itu hancur dimakan zaman atau dilubangi oleh air yang menetes dari hujan. Cukup jarang mereka yang dapat menjadikan batu tersebut sebagai 'lawan' dan dikalahkan. Menjadikan rasa bosan sebagai 'kawan' hanya akan membuatnya mendekam lebih lama dalam diri kita.Sebenarnya, menjalani rutinitas tidak akan menjelma menjadi sebongkah ‘batu kebosanan’ yang akan terus dirasakan menghimpit, apabila kita menjalaninya
dengan kesabaran dan juga keikhlasan. Melapangkan hati dan mengusir ‘debu-debu penyakit’ di dalamnya akan membantu diri kita untuk bisa menerima setiap kondisi dengan hati tenang. Masalahnya sekarang, menjadikan hati tetap ikhlas setiap saat dan membuatnya lapang selalu, adalah hal yang tidak mudah. Pula bergantung dari ‘bahan bakar’ yang ada dalam tiap diri kita, yang akan memompa semangat serta bekerja keras mengusir tiap titik debu ketidakikhlasan. Bahan bakar itu bernama keimanan.


Seringkali kita menyalahkan lingkungan di sekitar atas rasa bosan atau kejenuhan yang, menurut kita, sedang melanda. Mengkambinghitamkan sesuatu di luar diri kita rupanya menjadi pekerjaan mudah yang akan selalu kita lakukan, apabila kita tidak mau untuk melakukan introspeksi diri atau ber-muhasabah. Karena, bisa jadi
kondisi stagnan atau rasa jenuh itu datang oleh sebab diri kita yang sering berpikiran negatif terhadap apa yang sedang dilakukan, atau terhadap seseorang yang sedang dihadapi. Sehingga semuanya terasa begitu tidak menyenangkan. Bisa jadi pikiran-pikiran itu muncul dikarenakan diri kita yang tak mampu berinovasi
dan berpikir kreatif untuk mengembangkan kemampuan serta tugas-tugas kantor yang sedang dikerjakan. Bisa jadi ketidaknyamanan itu adalah akibat dari diri kita yang selalu merasa kurang sehingga timbul emosi dan gejolak untuk mendramatisasi keadaan. Lalu muncullah sebuah pikiran yang akhirnya dinyatakan sendiri maupun kepada orang lain, “Aku bosan! I’m outta here!”


Itu semua adalah pilihan. Sebab perubahan hanya akan terjadi pada mereka yang memiliki kemauan kuat untuk berubah atau mengubah kondisi tak menyenangkan yang mereka rasakan serta menghadapi segala hambatan yang memang akan selalu ada. Kita sendiri yang menentukan, akan mengalahkan atau dikalahkan oleh “rasa bosan”.

:: Eramuslim | 11/04/2005 

Senin, 23 November 2009

Nama-Nama Pintu Jahannam

1. HAWIYAH diperuntukkan atas orang-orang yang ringan timbangan amalnya, yaitu mereka yang selama hidup di dunia mengerjakan kebaikan bercampur keburukan. Orang muslim laki-laki maupun perempuan yang perbuatan sehariharinya tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka Hawiyah sebagai tempat tinggalnya. Mereka ini yaitu orang yang tidak mau menerima syariat Islam, tidak mau memakai jilbab (bagi wanita), memakai sutra dan emas (bagi laklaki), mencari rejeki dengan cara tidak halal, memakan riba dan lainsebagainya. Wallahu a’lam.    
  

2. JAHIM adalah neraka sebagai tempat penyiksaan atas orang-orang musyrik atau orang-orang yang menyekutukan ALLAH, maka sesembahan mereka akan datang untuk menyiksa mereka. Orang yang di dunia menyembah sapi (bangsa Hindu) maka sapi yang akan menyiksa orang itu. Orang yang menyembah patung berbentuk hewan, maka patung itu yang akan menyiksanya. Dan demikian selanjutnya.
Syirik disebut sebagai dosa yang  paling besar menurut ALLAH, karena syrik berarti mensekutukan ALLAH atau menganggap ada mahluk yang lebih hebat dan berkuasa sehebat ALLAH. Syirik dapat pula berarti menganggap ada Tuhan lain selain ALLAH. Wallahu a’lam.


3. SAQAR adalah tempat untuk orang-orang munafik, yaitu orang-orang yang mendustakan (tidak mentaati) perintah ALLAH dan Rasulullah. Mereka mengetahui bahwa ALLAH sudah menentukan hukum Islam melalui lisan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tetapi mereka meremehkan syariat (hukum) Islam. Maka dibakar dalam api adalah hukuman untuk mereka. Wallahu a’lam.

4. HUTHAMAH itu disediakan untuk orang yang suka mengumpulkan harta, serakah dan menghina orang-orang miskin. Mereka berpaling dari agama, tidak mau bersedekah dan tidak mau pula membayar  zakat. Mereka juga memasang wajah masam apabila ada orang miskin yang meminta bantuan. Maka ALLAH membalas dengan menyiksa mereka dengan cara menguliti dan mengelupaskan kulit muka mereka. Serta  membakar mereka semau yang ALLAH mau. Wallahu a’lam.


5. Hutamah disediakan untuk gemar mengumpulkan harta berupa emas, perak atau platina, mereka serakah tidak mengeluarkan zakat hartanya dan mencela menghina orang-orang miskin. Maka di Huthamah harta mereka dibawa dan dibakar untuk diminumkan sebagai siksa kepada manusia pengumpat pengumpul harta. Wallahu a’lam.


6. SAIR diisi oleh orang-orang kafir. Dan orang yang memakan harta anak yatim. Kafir berasal dari kata kufur yang berarti ingkar atau menolak. Sehingga kafir dapat diartikan menolak adanya ALLAH atau dengan membantah perintah ALLAH dan Rasul-NYA. Jadi manusia kafir itu terdiri dari:
  - orang yang tidak beragama Islam atau orang yang tidak mau membaca syahadat.
  - orang Islam yang tidak mau shalat 
  - orang Islam yang tidak mau puasa
  - orang Islam yang tidak mau berzakat
                                   Wallahu a’lam.

7. WAIL disediakan untuk para pengusaha dan pedagang yang culas, mengurangi timbangan, mencalo barang dagangan untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat. Maka dagangan mereka dibakar dan dimasukkan ke dalam perut mereka sebagai azab atas dosa-dosa mereka.
Wallahu a’lam.





:: Ilustrasi gambar diambil dari e-book (cinta_rasul@yahoogroups.com) : Beberapa Neraka Jahannam

Selasa, 10 November 2009

Tentang akhwat lagi...

Sebagian orang mungkin tau siapa  "aslina".
Cerita dan pengalaman dy bener2 full untuk masukan hidup di dunia, gmn gambaran di akhirat kelak.
Dari berapa cerita dy, satu kutipan yang bisa diambil untuk jadi tema bahasan kali ini. Dy bilang "Di tempat yang teduh saya di salamin, dan di sun oleh orang2 muslimah yang penuh seri untuk saya, disana saya liat perempuan-perempuan semuanya berjilbab....".
Hmm tentang berjilbab sebenernya itu urusan kaum hawa, jadi gimana masing2 individu aja. Nah sekedar pendapat kalo berjilbab beda dng berkudung.
Kebetulan dapet browsing dari blog lain berapa gambar karakter yang berjilbab dengan gambar karakter yang belum sempurna....




InsyaALLAH belajar lebih baik, dicintai ALLAH +dicintai orang lain juga. :)

Rabu, 04 November 2009

Hikmah Muslimah yg sopan




Islam mengajak para wanita muslimah bersikap sopan dan tidak melakukan sesuatu yang bisa menggoda laki-laki, salah satunya adalah dengan memperlihatkan perhiasannya dihadapan orang yang mana dia dilarang menampakkannya kepadanya.

Sebelumnya, mungkin ada yang nanya “Laki-laki kok bahas busana muslimah?” Jawabnya: bukan hanya masalah kaum muslimah, ini masalah syariat. Lagi pula ada kewajiban bagi kita untuk menyampaikan dakwah dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Kan ada ayat, yang artinya “jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari apa neraka!”.

Aurat itu kita tutup karena Allah telah melarang manusia untuk membukanya di hadapan siapa pun selain mahram. Aurat laki-laki itu antara pusar sampai lutut, sedangkan aurat perempuan itu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Aku tidak tahu kenapa Allah mengeluarkan aturan seperti itu. Tapi aku yakin, Allah itu Maha Bijaksana. Di mana ada syari’ah di situ pasti kita bisa memetik hikmahnya. Jadi masalahnya bukan sekedar aman tidak aman atau sopan tidak sopan. Bagi muslimah, mereka wajib menutup seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan, semata-mata karena menjalankan kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada mereka. Jika mereka melakukan perintah itu, maka mereka mendapat pahala, dan jika mereka meninggalkannya, maka mereka mendapat dosa.

Ya udah, singkat cerita, dengan perspektif yang seperti itu, Allah telah memerintahkan para wanita untuk tidak menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak pada dirinya (lihat An Nuur ayat 31).
Firman Allah, “Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan, dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31).

Termasuk dalam hal ini jika seorang wanita berdandan atau berparfum bukan untuk suaminya akan tetapi demi orang lain, agar orang-orang melihatnya cantik dan mencium bau harum parfumnya, perbuatan wanita seperti ini dilarang, ia tergolong zina.

Dari Abu Musa dari Nabi saw bersabda, “Setiap mata berzina, apabila seorang wanita memakai wewangian lalu dia melewati suatu majlis, maka dia adalah begini begini.” Yakni pezina. (HR. at-Tirmidzi dan dia berkata, “Hasan shahih.” Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan an-Nasa`i).

Selasa, 03 November 2009

Bersedekahlah...



Bersedekahlah walaupun hanya dengan setengah biji kurma...

Bismillahirrahmanirrahiim.

Abu Amru Jarir bin Abdullah ra. di dalam Kitab Hadits Muslim menceriterakan bahwa pada suatu siang, di saat dia dan para shahabat berada di sisi Rasulullah saw. tiba-tiba datang orang-orang yang bertelanjang, badannya hanya terselimuti bulu hewan tebal, umumnya mereka itu memegang pedang; semua mereka dari suku Mudlar. Melihat mereka dan memahami kesusahan mereka itu, berubahlah wajah Rasulullah. Beliau menyuruh Bilal untuk beradzan dan beriqamah.
Seusai shalat Rasulullah berpidato dengan membacakan Surah An-Nisa'
ayat 1:

"Wahai manusia bertaqwalah kalian kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa, dan dari padanya Dia menjadikan jodohnya, dan Dia jadikan dari mereka berdua laki-laki dan perempuan-perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu berminta-mintaan dengan namaNya; dan perliharalah silaturahmi karena sesungguhnya Allah itu Pengawas atas kamu"

Kemudian beliau melanjutkan dengan bersabda: "Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kamu sekalian." Beliau kemudian membaca pula Surah al-Hasyr [59] ayat 18: "Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah dan hendaknya setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertaqwalah kamu
sekalian kepada Allah; sesungguhnya Allah maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Lalu ada seorang yang bersedekah dari dinarnya, ada yang bersedekah
sebagian dari dirhamnya, sebagaian lagi memberikan pakaiannya, ada yang memberikan segantang gandum, ada yang memberikan segantang kurma; hingga beliau bersabda: "Sekalipun hanya setengah biji kurma..." Kemudian datanglah seseorang dari kaum Anshar membawa pundi-pundi besar yang hampir tidak kuat diangkat dengan satu tangan; lalu berturut-turut orang banyak memberikan bantuannya sehingga saya melihat dua tumpukan makanan dan pakaian, dan saya melihat wajah Rasululah saw berseri-seri kegirangan, bagaikan emas.
Lalu Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang di dalam Islam mengadakan kebiasaan yang baik, maka baginya diberikan pahalanya ditambah dengan pahala-pahala orang-orang yang mengamalkannya sesudahnya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka.
Dan barang siapa yang mengadakan suatu kebiasaan yang jelek dalam Islam, maka ada dosanya yang dia tanggung ditambah dengan dosa-dosa orang yang mengerjakan kebiasaan jelek itu juga sesudahnya, tanpa berkurangnya sedikitpun dosa-dosa mereka."

Gambaran di atas menunjukkan gambaran masyarakat Islam yang mungkin saat ini termasuk langka ditemukan. Masih adakah dari kita yang dapat menjadi orang yang seperti salah satu dari para shahabat Rasul itu??? Mudah-mudahan masih ada. 


WalLahu a'lamu bishshawwab.